pernahkah berdiskusi dengan angin? atau langit dengan segala perbedaan cakrawalanya?
pernahkah merasa mereka mengerti atau bahkan tidak mengerti pesan apa yang ingin disampaikan?
pernahkah merasa terbunuh pelan-pelan oleh racun yang tak berwujud?
pernahkah berfikir mengapa bumi ini harus berevolusi? berotasi? serta alam, mengapa harus melakukan penyeleksian?
pernahkah menatap tajam, berdiri tegak benar-benar tepat di bawah matahari yang bersinar?
pernahkah merasa terdampar diantara milyaran manusia?
pernahkah memerintah otak dan hati untuk tidak selalu tidak saling beradu argumen? atau mengapa keduanya harus berhubungan?
bagaimana rasanya?
langit.. dia besar,menguasai semesta. dia tidak banyak bicara, tapi dia selalu tahu kapan waktu yang tepat untuk bicara. sekalinya dia bicara, semesta akan memerhatikan. langit tak perlu pengertian, dia tak perlu belajar untuk mengerti siapapun atau apapun, dia tak perlu dimengerti karena tak akan ada yang mengertinya sekalipun cakrawala.
cakrawala.. dia membatasi ufuk yang dipandang secara mendatar melintasi garis horisontal permukaan bumi dan kaki langit. cakrawala merupakan garis pandang ke dalam dua kategori, dia membawa satu tujuan. untuk melihat dua dimensi berbeda dalam realita sosial. madu atau racun.
madu atau racun? atau keduanya?
saat sebagian menenggak racun, sebagian lainnya menenggak madu.
begitu pula sebaliknya.
memang tak pernah ada yang benar-benar akan bersama. yang ada hanya bayang-bayang dari cakrawala masing-masing bagian.
alam semesta ini, dengan seluruh bagiannya yang saling berkaitan yang benar-benar membentuk satu kesatuan sistem yang besar itu, apakah terwujud dengan sendirinya? ataukah dia memperoleh wujudnya dari sesuatu yang lain?
bagaimana dengan masyarakat manusia yang terdiri atas milyaran wujud dan tak terhitung spesies-spesies tumbuhan dan hewan baik di daratan maupun di lautan yang tertata rapi membentuk rantai-rantai ekosistem dan berbagai keteraturan dan ke-salingterkait-an?
otak.. dia adalah pusat pemikiran. darinya lah muncul begitu banyak ide-ide yang diperoleh dari berpikir, membayangkan dan menemukan.
hati.. dia mengenal, membuka dan memanfaatkannya.
seberapa sering mengalami perasaan tenang dan bahagia dari hati tanpa menggunakan panca indera?
seberapa sering menyadari kebenaran dari hati mengetahui apa yang dirasakan, dan bukan dari hasil jawaban yang disimpulkan?
DIA memberikan dua titikdua dengan membiarkan dan mempercayakan kepada yang dipercaya untuk memilihnya, mau didampingkan dengan apa kedua titikdua tersebut? tanda kurung tutup ataukah tanda kurung buka? sejatinya, realita sosial manusia memang selalu melulu berhadapan dengan pilihan.
dalam memilih, apa harus melulu dilakukan secara bersama? bisa tidak, bisa jadi juga iya.
tidak. karena pada akhirnya manusia harus mempertanggungjawabkan dirinya sendiri,bukan karena oranglain atau untuk oranglain.
iya. karena hidup tidak melulu dihadapkan dengan pertanggungjawaban terhadap diri sendiri.
hakikatnya, DIA menciptakan manusia untuk hidup berpasang-pasangan dan berkelompok bermasyarakat untuk menciptakan kehidupan.
dalam bahasa subjektif saja sudah kekal tercipta kata; aku,kamu,dia,kita,kalian,dan mereka.
semua sudah ada yang mengatur,yang diperlu hanya menjalani berdasar energi positif.
mengapa harus terlalu serius?
jadi, kalau merasa diri sebagai manusia, nikmati saja segala aturan yang sudah diatur-Nya. sederhana, bukankah?
No comments:
Post a Comment